Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan

Stinky - Jangan Tutup Dirimu (Nostalgia)


Sedikit bernostalgia dengan lagunya stinky .. memang sampai sekarang masih enak didengar .. dan lagu ini yang mengingatkan pada seseorang boleh dibilang cinta pertama.. walau tidak sempat mengungkapkan dan mengatakannya.. :)

Testimoni Cinta & Percaya

Malam ini terhipnotis oleh perasaan tidak menentu 
akan kegundahan hati yang terasa sulit akan menyatu 
apabila masih ada ragu didalam hati yang sendu

Ditemani segelas kopi, 
lagu bang iwan fals, 
suara percikan air dari hujan yang turun 
dan sebuah titik balik dari nilai kepercayaan seseorang 

Kadang aku berfikir hidup itu simple, mudah dan apa adanya 
akan tetapi ketika menyangkut urusan kepercayaan seseorang terhadap kita itu tidak mudah .. tapi itulah kehidupan setiap diri, setiap jiwa, setiap hati punya hak priogratif untuk percaya atau tidak percaya, dan itupun kembali kepada diri kita apakah kita memang layak untuk di percaya ataukah sudah layak untuk diberi kepercayaan??

Ruang Hampa



Sejenak menghilangkan letih dan rasa penat
Kurebahkan dan kuhangatkan tubuhku dengan selimut,
Setelah seharian kusibuk dengan duniawi,
Kudengarkan alunan ayat suci yang menyentuh ke hati
dan membuat jiwa sadar bahwa diri ini akan mati,

Ya Allah sempurnakanlah cintaku padaMU ya Allah sempurnakanlah cintaku kepada rasulMU
Ya Allah sempurnakanlah cintaku kepada makhluk yang KAU janjikan untukku,
Yaitu seseorang yang terbuat dari sebagian tulang rusukku,

Trip To Curug Malela

Curug Malela
kali ini saya akan sedikit bercerita tentang perjalanan touring,traveling & backpacking saya dengan teman-teman satu komunitas pecinta touring & backpacking di Brisix Community Bandung ke Curug Malela.

Curug Malela yang terlatak di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Sindang Kerta, Buni Jaya Kabupaten Bandung Barat. Perjalanan ke Curug Malela lumayan sedikit menantang dengan medan jalan yang rusak tetapi view sepanjang jalan lumayan bisa menghilangkan sedikit rasa lelah kita.

kali ini saya dan teman- teman  mencoba dengan berkendara sepeda motor menuju curug malela, awalnya kami berkumpul di rumah saya di daerah cimindi - cimahi untuk menentukan jalur yang akan dilalui dengan sebaelumya searching dulu memalui google map, maklum orang IT .. hehehe, setelah jalur yang akan kami lalui sudah kami temukan akhirnya kami berangkat sekitar pukul 11.30 (agak sedikit ngaret dari jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya jam 09.00).

Setelah melewati jalan yang berliku dan cukup panjang akhirnya kami sampai di terminal sindang kerta. disana kami sempat kebingungan karena ada dua jalan dan kami putuskan buat bertanya kepada penduduk lokal akan arah buni jaya. setelah kami dapat informasi tentang arah yang kami tuju akhirnya kami melanjutkan perjalanan kami kembali .. setelah lama akhirnya kami sampai juga di buni jaya dan menyempatkan berhenti di mini market yang ada disana (mantep neh mini market bisa sampai kesini hehehe ..), kami pun bertanya untuk yang kedua kalinya arah ke curug malela dan mendapat petunjuk arah yang kedua, tadinya kami berfikir kalau perjalanan kami sudah dekat dengan tujuan tetapi kami salah memperkirakan perjalanan masih jauh sekitar 15 KM .. cukup jauh. 

Penunjuk arah menuju curug malela
setelah melewati daerah perkebunan teh, kami pun sampai di desa rongga  dan akhirnya ada juga petunjuk arah ke curug malela. dan disinilah tantangan sebenarnya dimulai. ketika memasuki daerah manglid yang menuju cicadas jalan mulai berlumpur yang membuat licin dan batu2 besar dijalan menyulitkan kami untuk menguasai kendaraan .. maklum sepeda motor yang kami pakai standar bukan buat sepeda motor trail .. hehehe ... 

Beberapa kali sepeda motor kami terperosok kedalam lumpur bahkan rekan saya Bro Ed sempat terperosok kedalam lumpur yang lumayan dalam, dan jalan yang licin membuat kami harus berusaha mengendalikan sepeda motor kami agar tidak terjatuh. Rekan saya Bro hari beberapa kali harus turun dari sepeda motor agar sepeda motor yang kami tumpangi bisa naik. tapi semua itu tidak menyurutkan semanagat kami untuk sampai di curug malela.
jalan berlumpur



Bro Edi setelah terjebak di dalam lumpur

saya mencoba menghindari jalan berlumpur
Jalan Rusak dan berbatu

sebenarnya sedih juga melihat kondisi jalan yang rusak sedangkan ada tempat wisata yang begitu indah dan menakjubkan bahkan sebagian orang menyebut curug malela sebagai niagara mini. dan yang lebih disayangkan tidak adanya perhatian pemerintah tentang hal ini padahal apabila dikelola dengan baik curug malela merupakan daerah yang potensial menambah pendapatan daerah dari sektor pariwisata bahkan dengan banyaknya wisatawan baik lokal maupun asing yang datang untuk melihat keindahan alam indonesia bisa menambah penghasilan warga sekitar dri segi ekonomi masyarakat akan meningkat.

Ok back to topik.. jalan yang rusak dan licin membuat kami lumayan lelah diperjalanan "belum sampai ke tempat tujuan sudah lelah hehehe" tapi pemandangan di sekitar jalan yang kami lewati mampu meredam rasa lelah kami terlihat dari kejauhan puncak- puncak gunung dan bukit yang begitu indah sehingga kami pun menyempatkan diri untuk berhenti dan berfoto ria sambil beristirahat sejenak dan mendinginkan tunggangan kami yang sudah mulai panas agar lebih fit lagi. 


View di sepanjang jalan menuju malela

terlihat puncak2 gunung dan bukit

awan yang sudah mulai menghitam

poto2 dulu dengan view yang menakjubkan

view puncak2 gunung yang indah

bro edi


poto bareng dulu


Setelah puas dengan aktifitas poto-poto dan badan kami yang sudah mulai fit kembali kamipun melanjutkan perjalanan, dan tidak berapa lama akhirnya kami sampai pada sebauah warung yang mengharuskan kami memarkin motor disana karena untuk kebawah kelokasi curug tidak memungkinkan menggunakan sepeda motor. kami pun bergegas memarkirkan motor dan cepat-cepat menuju lokasi dengan berjalan kaki yang jaraknya masih 3 km. di pinggir jalan setapak dan tangga - tangga yang kami lalui terdapat pohon-pohon pinus yang membuat suasana semakin indah dan menarik, 


menuju curug

Jalan yang sudah ditembok menuju curug

Terlihat kiri kanan banyak pohon pinus


View jalan yang kami lewati

Ketidaksabaran kami akhirnya membuat kami berjalan lebih cepat, kami sambil bercanda dan tertawa akhirnya kami sampai di ujung jalan yang bertembok tadi, kami sempat berfikir kalau kami sudah sampai dilokasi akan tetapi kami salah setelah kami sampai di ujung jalan yang bertembok justru kami malah menemukan kembali warung dan mushola dan ternyata jarak ke curug masih lama dan harus turun sekitar 2 km lagi kebawah melewati jalan tanah, tangga, sawah dan tentunya masuk hutan hehe ..

curug malela terlihat dari kejauhan

jalan sawah (galengan)

Curug Malela dari kejauhan

Jembatan

Sudah dekat dengan Curug Malela
 Dan tidak lama kemudian jreng..jreng akhirnya kami pun sampai di "Curug Malela" yang begitu menakjubkan .. salah satu kekuasaan dan ciptaan Allah yang sungguh bisa membuat kami terkagum2 dengan keindahan dan keasriannya. subhanallah ... ga banyak menyita waktu kami bertiga langsung naik ke atas batu untuk berfoto ria mengabadikan momen yang indah ini .. ehehehe. sampai di curug sekitar jam 03.00 berarti sekitar 3,5 jam diperjalanan.

Bro Edi Melompat

Jump

Bro Hari Melompat

Poto bareng2

Aliran air


Narsis dikit

Mencoba melintasi sungai
Tak terasa waktu semakin sore waktu sudah menunjukan pukul 16.00 wib, akhirnya  kami pun  memutuskan  untuk segera bergegas naik dan pulang menuju tempat parkir, agar tidak kemalaman dijalan dan langit pun sudah mulai mendung, karena akan menyulitkan kami apabila jalan yang kami lewati selama pergi dalam keadaan gelap dan hujan turun pasti akan sangat licin dan itu berbahaya bagi tim.

Jalan pulang inilah yang lumayan menyita energi kami karena harus jalan menanjak ketempat kami memarkir motor, untungnya kami sudah terbiasa dengan hiking dan naik gunung jadi lumayan kecil lah tantangannya hehehe ... 


melewati jalan bebatuan

menikmati perjalanan

bertemu para backpacking lain

jalan yang kami tempuh


sampai juga di jalan yang awal

pukul 04.30 kami sampai ditempat parkir.. alhamdulillah ... kami beristirahat sejenak sambil ngobrol-ngobrol sama yang punya warung tempat kami menyimpan motor juga dengan para backpacking lain yang juga sama2 sampai di tempat kami memarkir motor .. setelah rasa cukup beristirahat akhirnya kami memutuskan untuk langsung pulang, ditengah perjalanan ternyata ban motor mio yang teman saya tumpangi pecah dan harus ditambal. parahnya jarag tukang tambal ban jauh akhirnya dengan berat hati harus di dorong sampai tukang tambal ban. sedangkan saya kebetulan ikut dengan motor satunya lagi yang di kendarai bro edi. setelah selesai permasalahn ban kamipun melanjutkan perjalanan waktu sudah menunjukan pukul 17.45 wib. terlihat dari kejauhan warna langit yang kemerahan sungguh indah.

terlihat langit yang kemerah2an

suasana perjalanan pulang

pohon2 besar

setelah kami melalui jalan2 yang rusak, pohon2 besar dan kebun teh di malam hari akhirnya kami sampai di daerah sindang kerta yang lumayan cukup ramai. kamipun terus melanjutkan perjalanan sampai di daerah ciminyak kami tertarik dengan kuliner yang di jajakan warung2 pinggir jalan disana banyak warung yang menjual ikan nila bakar yang masih seger .. kami pun tidak menyianyiakan kesempatan untuk mencoba kuliner yang satu ini.

Memilih Ikan yg akan dibakar
Ikan yang sudah dipilih

Bakar Ikan dan ayam
Akhirnya mateng juga dengan nasi liwet yang sebenarnya cukup buat berlima
makan dengan lahap
bro hary
bro edi
berebut ayam dan ikan hehehe

Setelah selesai menikmati kuliner dan beristirahat sejenak akhirnya kami pulang dan berpisah dengan bro edi di daerah patrol sedangkan bro hary ikut kerumah buat upload foto hehe ...

  • Rincian Biaya
  1. Biaya perjalanan menggunakan sepeda motor dari cimahi sekitar Rp.24.000,- PP/motor
  2. Biaya Parkir Rp.2000,-/motor
  3. Kuliner Rp.54.000,-/3 Orang atau Rp.18.000/orang .. Menu : Nasi Liwet Super yang cukup buat 5 orang, Ikan Nila bakar yang besar, ayam bakar yang juga besar, karedok, sambal jahe, dan sambal terasi ..

















ketika hati ini luluh dalam keluh


disini teduh
hadir kukuh,
di kelopak cerah segala bunga,
di pucuk-pucuk hijau
segala rasa ....


ketika pesona hadir disini,
kuharap jabat eratnya
mengikat segala molekul kasih
yang bertebaran di udara,
di ruang cinta hati kita ..

bahwa cinta
adalah lebih kasih
dari sekedar rasa ..

ada suatu masa
ketika hati ini luluh dalam keluh,
menangkap duka
diruang mata
mereka-mereka yang kita cinta ..



[Cimahi, 27 Nov' 2010]

Sebuah Pembelajaran untuk Keadilan di negeri ini

Ada suatu kisah pada jamannya khalifah abu bakar, ada seorang miskin yang bertetangga dengan seorang kaya, pada suatu hari si miskin kelaparan dan tidak mempunyai apa2 untuk dimakan lalu si miskin itu pergi keluar rumahnya untuk mencari apa saja yg bisa dia makan, tak sengaja si miskin lewat depan rumah si kaya dan liat ada banyak makanan di rumah itu.. pikiran untuk mencuri karena lapar pun tersirat dalam benaknya, lalu dengan hati2 si miskin masuk rumah si kaya dan mengambil sepotong roti, akan tetapi kepergok si kaya..

Si Kaya : " kamu mau mencuri dirumahku"
Si miskin: "saya hanya sedang lapar tidak ada maksud untuk mencuri"
si kaya: "pencuri tetaplah pencuri" akan kuserahkan kau pada khalifaj abu bakar..

si miskin pun ketakutan dan akhirnya si miskin di tangkap dan dibawa ke khalifah abu bakar untuk diadili... akhirnya mereka sampai di rumahnya sang khalifah..

si kaya : "wahai khalifah abu bakar orang ini telah mencuri roti dari rumahku"

lalu abu bakar bertanya pada si miskin

Khalifah Abu Bakar:"apakah betul yang dia ucapkan wahai fulan"
si miskin menjawab: " betul ya khalifah"

Abu bakar pun bertanya kembali

Khalifah Abu Bakar:"kenapa engkau melakukannya?sedangkan engkau tahu kalau mencuri itu perbuatan
yang dilarang Allah? "

si miskin menjawab:"karena lapar yang sangat"

lalu khalifah abu bakar terdiam sejenak,. dan bertanya pada si kaya

Khalifah Abu Bakar:"apakah kau bertetangga dengannya?"
Si kaya: "Iya wahai khalifah"
Khalifah Abu Bakar : "apakah kau tahu dia itu miskin?"
Si kaya:"Iya"

lalu abu bakar berkata kepada para algojo.. "hukum orang kaya itu..!!!?" si kaya pun kaget!!

Si Kaya : "kenapa wahai khalifah.. si miskinlah yang mencuri roti ku.."
Khalifah Abu Bakar : "TIDAK..", kaulah yang mencuri hak2 orang miskin itu karena sesungguhnya disebagian hartamu ada hak2 buat si miskin...

===================================================

Subhanalloh Allahuakbar... inilah bentuk keadilan sesungguhnya...yg diajarkan didalam islam

kita liat sekarang ini di negeri indonesia ini keadilan sangatlah tabu bagi orang2 kecil akan tetapi bagi orang2 besar hukum merupakan mainan yang menyenangkan.. bagi si kaya keadilan adalah tempatnya bersenang2 sedangkan bagi si miskin keadilan hanyalah tempat dia ditendang.. kalau si kaya tertawa s miskin teraniaya...

ini lah bentuk jiwa nasionalisme kalian wahai para pembesar... nasionalisme kepada si kaya... nasionalisme kepada uang..?? apakah Allah sudah benar2 menutup mata hati kalian??

Gumaman Sang Pemimpi

Saat itu masih pagi, Dinginnya udara merayap melewati pori-pori baju yang aku kenakan, orang yang aku temukanpun berbuat sama seperti aku lakukan, hanya beberapa diantaranya yang berani tanpa mengenakan jaket. Namun tetap, walau aku telah membalut tubuhku dengan jaket tebal, tapi gelitik dinginnya udara tetap merasuk, menyusuri seluruh tubuhku.

Walau cuaca disekeliling tempat tinggalku dalam kondisi demikian, namun tak mampu menghentikan aktivitas warganya. Segerombolan ibu-ibu bahkan lagi asyik berdiskusi di salah satu warung dipojok kampungku. Walau tanpa judul, namun kelihatannya hangat, ada yang menimpali ada yang menyatakan kesamaan ada yang menyatakan persetujuan atau pula yang menolak sebagai tanda tak sepakat.

Mereka membicarakan tentang harga-harga yang terus bergerak naik setiap hari, pendidikan yang mahal, informasi kejahatan yang semakin terbuka, tindakan asusila yang marak di mana-mana, sementara penghidupan dan kualitas kehidupan yang semakin tak berkualitas.

Pada kesempatan ini mari kita bahas masalah mereka, walau hanya sedikit permasalahannya. Ada hal yang menarik dari diskusi mereka yang perlu kita ranungi! kita mencoba mengulas pergerakan harga.

Bukankah kenaikan harga ini menjadi berkah tersendiri bagi si produsen? Yang menjadi masalah adalah dari berbagai komponen kehidupan yang kita butuhkan beberapa persen yang mampu kita penuhi sendiri? Apakah semua itu produk orang lain? Atau semuanya produk kita? Atau ....

Apakah yang kita makan hari ini merupakan produk kita? Misalkan, padi yang kita masak? Bumbu yang kita gunakan? Tempe, ikan, telur, daging, sayuran dan buah-buahan? Apakah air air dalam kemasan yang kita konsumsi juga merupakan karaya kita? Atau hasil ssebuah proses orang lain? Susu, teh, sari jahe, sari jeruk atau jenis minuman lainnya?

Apakah jenis pakaian yang kita kenakan merupakan karya kita? kalau kita mengatakan mustahil kita membuat kain untuk itu, apakah baju yang kita pakai hasil jahitan kita? celana dalam, baju dalam, kaos kaki, alas kaki, tutup kepala dan sarung apakah kita yang membuat? Atau paling tidak apakah dalam rantai produksinya/distribusi melewati tangan kita? Atau melulu hanya melewati tangan - tangan orang yang tak pernah kita tahu ketauhidannya?

Kadang kita bangga dengan sebuah produk dan rela memberikan untung yang kita anggap kecil karena harga barangnya beberapa puluh rupiah saja, seperti bumbu masak. kalau saja dari satu sachet memberikan keuntungan Rp.50,-, maka tatkala terjual i juta sachet perhari berarti sebulan teraup keuntungan 1,5 miliar. kalau saja apa yang dibicarakan di atas merupakan salahsatu produk kita, tentunya sudah sangat membanggakan. Tetapi jika produk tersebut merupakan produk dari orang yang ideologinya tidak jelas atau bahkan bersebrangan maka tentunya akan menjadi malapetaka buat kita.


Tidak sedikit dari semacam produk tersebut terindikasi kehalalannya tidak jelas, mengandung unsur yang membahayakan kesehatan. Atau sangat mungkin dari keuntungan yang diperolehnya digunakan untuk membiayai penyebaran ideologi yang mereka anut bahkan digunakan untuk menghancurkan kaum muslimin.

yang menjadi permasalahan disini bukan berarti kita tidak mau bermuamalah dengan mereka, tetapi jika muamalah yang kita lakukan ternyata membahayakan dien yang kita yakini.

Sebenarnya banyak manfaat lain yang bisa kita peroleh kalau saja kita membuat upaya pemenuhan kebutuhan kita sendiri.

Pertama, akan terbentuk kekuatan ekonomi yang menguatkan tegaknya dien yang kita anut. Rantai ekonomi mulai dari pasokan bahan baku, Proses produksi dan distribusi yang berputar dalam lingkungan umat akan memberikan penguatan ekonomi individu umat. Penguatan ekonomi individu ini akan mendorong peningkatan pendapatan ekonomi kolektif karena tiap individu memiliki kewajiban Zakat, Infaq dan Shadaqoh.Peningkatan pendapatan ekonomi kolektif ini akan meningkatkan kemampuan proses pembangunan dien dalam berupa dana da'wah, pengentasan kemiskinan , penanggulangan dhuafa, pembiayaan ekonomi produktif dll.

Kedua, ada keterjaminan halalan toyiban dari produk yang kita makan. sebab sudah barang tentu jika seorang muslim yang memproduksinya maka quality control yang dilakukannya selain mengutamakan kualitas juga akan berbasis pada standar syariat. Kita menyadari bahwa apa yang menjadi asupan pada tubuh kita harus berprinsip halalan toyyiban.

ketiga, kekutan kafirin sedikit demi sedikit akan terkikis, sebab berbagai potensi tenaga kerja muslim terhebat yang tadinya dapat mereka manfaatkan akan beralih menjadi kekuatan muslim. potensi pasar potensial akan terambil, karena jumlah populasi terbesar kali ini adalah muslim dan mereka sasaran pasar yang sangat potensial. Belum lagi dari pengurangan dana yang biasa mereka terima dan digunakan untuk memerangi umat islam.

Yang jadi pertanyaan kali ini adalah, apa ada yang mau menyusun kekuatan ekonomi untuk tegaknya Dienullah? kapan akan kita lakukan penataan ekonomi tersebut? Atau kita tidak perlu berharap unutk hal itu? Dan kita biarkan menjadi mimpi selamanya?

Memamng ekonomi hanya sebagian dari sebuah sistem, kuat dan lemahnya beserta sistem itu. Sementara keberpihakan terhadap sistem ekonomi itu. Sistem ekonomi manapun apakah Sosialis, atau Kapitalis? punya kekuatan lantaran para penguasa atau pemegang kebijakan meyakini dan memberlakukan sistem tersebut.

Sebagai sebuah ilustrasi sejarah, kita ingat di era Adi sasono menjabat menteri, beliau berani memberlakukan ekonomi kerakyatan, Maka tatkala itu berbagai belahan secara serentak memberlakukan ekonomi kerakyatan, dengan prinsip enablement (pemampuan) dan enpowerment (pemberdayaan. Namun kali ini setelah rejim itu lengser ekonomi kerakyatan itu enghilang gerakan mauapun semangatnya, bahakan sekedar isu pun tak terdengar lagi.

Adakah kemudian hari-hari mendatang akan lahir rejim yang memberlakukan sistem ekonomi islam? semoga lahir dan tidak hanya dalam hitungan waktu sementara!

Kita berharap akan tampil pemimpin yang seperi Rasul dan sahabatnya, memegang kekuasaaan untuk menjadi pelayan umat, memilih cara hidup sederhana bahkan kategori miskin demi kesejahteraaan rakyatnya. Siapakah hari ini yang berani mengharamkan riba dan menghalalkan jual beli serta menyuburkan shadaqoh, untuk menjamin kemakmuran rakyatnya. Adakah yang berani menghukum berat bagi setiap pencuri hingga terjamin harta rakyatnya? Ataukah ada konglomerat seperti Abdurahman bin Auf dikala pulang niaga membagikan keuntungannya 1/3 diinfaqkandijalan Allah, 1/3 shadaqoh untuk fakir miskin, 1/3 dipinjamkan untuk bina ekonomi umat, dan beliau sendiri jarang mau pegang harta karena saking takutnya masuk syurga dalam keadaan merangkak.

Baiklah jika kita tidak bisa berharap pada orang lain alangkah baik dan mulianya jika kita mengusahakan sesuatu upaya yang akan menjadikan hidup kita lebih berkah dengan saling membantu diantara kita. Andak kesatuan aqidah ini dikembangkan sedikit untuk menjiwai muamalah kita tentu kita akan berfikir bagaimana kita dapat meraih manfaat dengan cara memberi untung untuk saudara kita sendiri. Demi suburnya silaturahmi diantara umat kenapa harus keberatan berbelanja kepada saudara sendiri karena alasan agak jauh atau mungkin sedikit lebih mahal, padahal disinilah taawun kita teruji. Sebenarnya semnagat taawun bukanlah kontra produktif atas profeionalisme jual beli, disini lebih memberikan ruang agar setiap umat maju jauh dari istilah persaingan yang membawa pada arah saling berebut kesempatan sehingga saling menjatuhkan. Taawun tidak berarti melegalisir produk jelek atau memfasilitasi pihak yang mau merugikan orang lain, tapi merupakan kebersamaan yang tidak setengah hati untuk membangun kemajuan bersama. Umat terbaik bukanlah yang paling pintar mendapatkan untung melainkan orang yang banyak memberi manfaat bagi orang lain. Bukan pula yang tertinggi derajatnya itu orang yang paling sukses pribadinya melainkan orang yang mampu memajukan orang lain.

Kepedulian sosial kita dipertanyakan karena memang sebenarnya kita memiliki potensi besar untuk melakukan banyak hal termasuk menyelamatkan muamalah umat, dan sangat mungkin dan mampu untuk merealisasikan moto : Dari Umat, Oleh Umat, dan Untuk Umat.



Wallahua'lam bishshawab.

Rasulullah SAW Mendatangi Kafilah Dagang (Dakwah dan Cintanya terhadap islam dan umat manusia agar selamat di akhirat kelak)



Dari kejauhan gumpalan debu padang pasir membumbung ke langit.

Debu-debu yang berterbangan itu dapat terlihat dari kejauhan bertanda ada satu rombongan kafilahÏakan datang mendekati kota Mekkah.

Rasulullah SAW melihat gumpalan debu dari kejauhan itu segera pulang ke rumah.

Beliau SAW langsung menyiapkan perbekalan dan membungkusnya.

Setelah itu Rasulullah SAW menunggu di pintu gerbang kota Mekkah.

Kafilah itu rupanya tidak memasuki kota Mekkah mereka hendak menuju tempat lain.

Rasulullah SAW mendekati kafilah itu dan mencari pimpinan rombongan kafilah tersebut.

Setelah berjumpa dengan pemimpin kafilah itu Rasulullah SAW meminta izin untuk dapat ikut serta di dalam rombongantersebut.

Beliau SAW telah diizinkan, Rasulullah SAW mulailah berda'wah kepada mereka, kepada setiap orang dalam rombongan itu Rasulullah SAW telah sampaikan kebesaran Allah SWT dan mengajak mereka untuk menerima Islam.

Setelah semua orang mendapat penjelasan dari Rasulullah SAW, Beliau SAW pun meminta izin kepada pimpinan rombongan untuk pulang kembali ke Mekkah.

Rasulullah SAW kembali ke kota Mekkah dengan berjalan kaki sedangkan kafilah tersebut telah melalui kota Mekkah sejauh satu hari satu malam perjalanan.

Rasulullah SAW hanya inginkan setiap orang memiliki kalimah Laalilaahaillallaah dan selamat dari adzab yang pedih kelak di akhirat.