Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Motivasi Spritual Sa'ad bin Mu'adz sebelum perang badar


Sosok para sahabat pada Zaman Rasul adalah generasi terbaik sepanjang masa. Dalam diri mereka masing - masing memiliki kekhasan tersendiri yang menonjol. Untuk membahas nilai individu dalam diri mereka. Para ulama Salafus Shalih banyak membuat biografi tentang mereka. Sebut saja buku Sirah Sahabat karya Syaikh Muhammad Yusuf Al Kandalawy, Tarikh Khulafa karya Imam As Suyuthi, dan tentu buku sejenis yang jumlahnya teramat banyak untuk disebutkan satu demi satu.

Sebagai contoh, saat Rasulullah saw. Mengambil sikap untuk memerangi kaum Quraisy di Medan Badar, para sahabat, baik Anshar maupun Muhajirin, menunjukan karakter unggul. Mereka sahut - menyahut menyatakan komitmennya untuk setia menemani Rasulullah saw. memerangi pasukan pimpinan Abu Sufyan. Jika kita mau jujur, perkataan sahabat Rasul, Saad bin Mu'az, sungguh dapat menggetarkan hati kita, sebagaimana ditunjukan dalam peraga berikut.

Sepertinya, engkau ragu kepada kami, wahai Rasulullah

Dan sepertinya, engkau khawatir bahwa orang-orang Anshar,

sebagaimana yang tampak pada pandanganmu, tidak akan menolongmu, kecuali di ngerinya.

Saya bicara atas nama orang Anshar dan memberi jawaban berdasarkan sikap mereka.

Berangkatlah bersama kami, sesuai dengan yang apa engkau kehendaki.

Ikatlah tali siapapun yang engkau kehendaki dan putuskanlah ikatan siapa saja yang engkau kehendaki.

Dan ambilah dari harta kekayaan kami yang engkau kehendaki. Dan berikanlah yang mana saja yang engkau kehendaki.

Apa saja yang engkau ambil, niscaya lebih kami sukai daripada yang engkau tinggalkan.

Demi Allah, kalau seandainya engkau menempuh perjalanan bersama kami hingga ke barak Al Ghamad (Kota Habasyah), kami semuanya akan tetap bersamamu.

Demi Allah, kalau seandainya engkau mengajak kami untuk menyebrangi lautan sekalipun, pasti kami akan lalui bersamamu.


Begitulah Motivasi Spritual Sa'ad bin Mu'adz sebelum perang badar, Sebagai tanda ketaatan kepada Allah dan Rasulnya.

  • Referensi : Sirah Sahabat karya Syaikh Muhammad Yusuf Al Kandalawy, Tarikh Khulafa karya Imam As Suyuthi, Muhammad saw. On The Art Of War karya Yuana Ryan Tresna

MELAKSANAKAN PERINTAH SESUAI KEMAMPUAN

Dari Abu Hurairah, ‘Abdurrahman bin Shakhr radhiallahu ‘anh, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah bersabda : “Apa saja yang aku larang kamu melaksanakannya, hendaklah kamu jauhi dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu. Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka (tidak mau taat dan patuh)”

[Bukhari no. 7288, Muslim no. 1337]


Hadits ini terdapat dalam kitab Muslim dari Abu Hurairah, ia berkata : “Rasulullah berkhutbah dihadapan kami, sabda beliau : Wahai manusia, Allah telah mewajibkan kepada kamu haji, karena itu berhajilah, lalu seseorang bertanya : Wahai Rasulullah… apakah setiap tahun ?, Rasulullah diam, sampai orang itu bertanya tiga kali, lalu Rasulullah bersabda : Kalau aku katakana “ya” niscaya menjadi wajib dan kamu tidak akan sanggup melakukannya, kemudian beliau bersabda lagi :Biarkanlah aku dengan apa yang aku diamkan, karena kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka. Maka jika aku perintahkan melakukan sesuatu, kerjakanlah menurut kemampuan kamu, tetapi jika aku melarang kamu melakukan sesuatu, maka tinggalkanlah. Laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah adalah Aqra’ bin Habits, demikianlah menurut suatu riwayat.

Para ahli ushul fiqh mempersoalkan perintah dalam agama, apakah perintah itu harus dilakukan berulang-ulang ataukah tidak. Sebagian besar ahli fiqh dan ahli ilmu kalam menyatakan tidak wajib berulang-ulang. Akan tetapi yang lain tidak menyatakan setuju atau menolak, tetapi menunggu penjelasan selanjutnya. Hadits ini dijadikan dalil bagi mereka yang bersikap menanti (netral), karena sahabat tersebut bertanya “Apakah setiap tahun?” sekiranya perintah itu dengan sendirinya mengharuskan pelaksanaan berulang-ulang atau tidak, tentu Rasulullah tidak menjawab dengan kata-kata “Kalau aku katakan “ya”, niscaya menjadi wajib dan kamu tidak akan sanggup melakukannya” Bahkan tidak ada gunanya hal tersebut ditanyakan. Akan tetapi secara umum perintah itu mengandung pengertian tidak perlu dilaksanakan berulang-ulang. Kaum muslim sepakat bahwa menurut agama, bahwa haji itu hanya wajib dilakukan satu kali seumur hidup.

Kalimat, “Biarkanlah aku dengan apa yang aku diamkan” secara formal menunjukkan bahwa setiap perintah agama tidaklah wajib dilaksanakan berulang-ulang, kalimat ini juga menunjukkan bahwa pada asalnya tidak ada kewajiban melaksanakan ibadah sampai datang keterangan agama. Hal ini merupakan prinsip yang benar dalam pandangan sebagian besar ahli fiqh.

Kalimat, “Kalau aku katakan “ya” tentu menjadi wajib” menjadi alasan bagi pemahaman para salafush sholih bahwa Rasulullah mempunyai wewenang berijtihad dalam masalah hukum dan tidak diisyaratkan keputusan hukum itu harus dengan wahyu.

Kalimat, “apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu” merupakan kalimat yang singkat namun padat dan menjadi salah satu prinsip penting dalam Islam, termasuk dalam prinsip ini adalah masalah-masalah hukum yang tidak terhitung banyaknya, diantaranya adalah sholat, contohnya pada ibadah sholat, bila seseorang tidak mampu melaksanakan sebagian dari rukun atau sebagian dari syaratnya, maka hendaklah ia lakukan apa yang dia mampu. Begitu pula dalam membayar zakat fitrah untuk orang-orang yang menjadi tanggungannya, bila tidak bisa membayar semuanya, maka hendaklah ia keluarkan semampunya, juga dalam memberantas kemungkaran, jika tidak dapat memberantas semuanya, maka hendaklah ia lakukan semampunya dan masalah-masalah lain yang tidak terbatas banyaknya. Pembahasan semacam ini telah populer didalam kitab-kitab fiqh. Hadits diatas sejalan dengan firman Allah, QS. At-Taghabun 64:16, “Maka bertaqwalah kepada Allah menurut kemampuan kamu” Adapun firman Allah, QS. Ali ‘Imraan 3:102, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan taqwa yang sungguh-sungguh” ada yang berpendapat telah terhapus oleh ayat diatas. Sebagian ulama berkata : Yang benar ayat tersebut tidak terhapus bahkan menjelaskan dan menafsirkan apa yang dimaksud dengan taqwa yang sungguh-sungguh, yaitu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, dan Allah memerintahkan melakukan sesuatu menurut kemampuan, karena Allah berfirman, QS. Al-Baqarah 2:286, “Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya” dan firman Allah dalam QS. Al-Hajj 22:78, “Allah tidak membebankan kesulitan kepada kamu dalam menjalankan agama”

Kalimat, “apasaja yang aku larang kamu melaksanakannya, hendaklah kamu jauhi” maka hal ini menunjukkan adanya sifat mutlak, kecuali apabila seseorang mengalami rintangan /udzur dibolehkan melanggarnya, seperti dibolehkan makan bangkai dalam keadaan darurat, dalam keadaan seperti ini perbuatan semacam itu menjadi tidak dilarang. Akan tetapi dalam keadaan tidak darurat hal tersebut harus dijauhi karena ada larangan. Seseorang tidak dapat dikatakan menjauhi larangan jika hanya menjauhi larangan tersebut dalam selang waktu tertentu saja, berbeda dengan hal melaksanakan perintah, yang mana sekali saja dilaksanakan sudah terpenuhi. Inilah prinsip yang berlaku dalam memahami perintah secara umum, apakah suatu perintah harus segera dilakukan atau boleh ditunda, atau cukup sekali atau berulang kali, maka hadits ini mengandung berbagai macam pembahasan fiqh.

Kalimat, “Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka” disebutkan setelah kalimat, “biarkanlah aku dengan apa yang aku diamkan kepada kamu” maksudnya ialah kamu jangan banyak bertanya sehingga menimbulkan jawaban yang bermacam-macam, menyerupai peristiwa yang terjadi pada bani Israil, tatkala mereka diperintahkan menyembelih seekor sapi yang seandainya mereka mengikuti perintah itu dan segera menyembelih sapi seadanya, niscaya mereka dikatakan telah menaatinya.
Akan tetapi, karena mereka banyak bertanya dan mempersulit diri sendiri, maka mereka akhirnya dipersulit dan dicela. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam khawatir hal semacam ini terjadi pada umatnya.

5 cara untuk membagi pengaruh kepemimpinan anda


Pemimpin muda mungkin tidak mengetahuinya, dan orang yang sudah kawakan tidak lagi memikirkannya, tapi situasi tidak mengaburkan kebenaran: pemimpin mempengaruhi sepanjang waktu.

Pada satu tahapan ini memang masuk akal. Namun, sebagai pemimpin kita berupaya untuk membawa orang lain menuju arah yang diinginkannya, dan karena kita tidak bisa memaksa seseorang untuk melakukan apapun (setidaknya tidak berhasil untuk waktu yang diperpanjang), kita harus mengandalkan kemampuan kita untuk mempengaruhi orang lain dan menggerakkan mereka menuju sasaran.

Pengaruh seperti ini yang terencana atau ditujukan adalah penting, tapi seringkali dilupakan, tapi ini tidak hanya mempengaruhi masalah tersebut, maupun masalah yang paling aman.

Pengaruh yang “sehari-hari” mungkin kita lupakan atau abaikan karena kita tidak menyadari bentuk pengaruh terselubung dan bagaimana menembusnya.

Kenyataannya adalah sebagai seorang pemimpin apapun yang kita lakukan selalu diperhatikan, dan memiliki makna yang ditetapkan.

Mari kita lihat lima cara pemimpin yang membagi pengaruh, dengan sengaja atau tidak.

Lima pengaruh

Kami saling mempengaruhi kelima cara ini sepanjang waktu. Semakin kita menyadari ini, semakin sukses kita menyadari ini, semakin sukses kita.

1. Kata-kata. Hal-hal yang kita katakan – dan tidak – memiliki pengaruh yang besar pada pemikiran dan perilaku orang lain. Ini bisa mengambil bentuk dari komentar politisi yang terencana dengan baik dan berulangkali (atau sebelum rapat perencanaan yang besar), atau dari cara yang bisasa seperti cara kita menyapa mereka di pagi hari. Semua yang dikatakan pemimpin berperan dalam keberhasilan pengaruh mereka untuk menggerakkan orang ke arah yang diinginkan.

2. Tindakan. Tindakan berbicara lebih keras dari kata-kata adalah hal yang klise. Bagi seorang pemimpin, ini lebih dari sekedar hal klise; ini adalah kebenaran. Apa yang Anda lakukan saat seseorang membagi ide barunya? Bagaimana Anda ingin kami bertindak terhadap kabar terkait dengan pelanggan baru atau masalah? Tim Anda memberikan isyarat terkait dengan hal-hal yang Anda tempatkan sebagai prioritas hanya dengan melihat mana yang menjadi fokus terbesar Anda, baik energi/waktu/perhatian.

3. Bahasa tubuh. Apakah Anda mengangguk dengan semangat atau memutar mata Anda? Apakah Anda tersenyum lebar atau tetap cemberut? Apakah Anda duduk dengan tegap dalam pertemuan, atau bersandar santai? Orang disekitar Anda menggunakan petunjuk ini. Tantangan terbesarnya adalah bahasa tubuh kita bisa disalahartikan – sehingga kita harus waspada dan menyadari resiko ini.

4. Sikap. Hampir semua orang tahu dan percaya bahwa antusiasme itu menular, sayangnya, kebalikannya juga ada benarnya. Sikap kita menular terlepas dari apapun itu, terlebih sebagai seorang pemimpin. Seorang peserta workshop pernah bertanya pada saya,”Saya bisa menebak ini hari yang baik dari sikap supervisor saya saat dia berjalan ke pintu.” Cukup apa yang dikatakannya.

5. Keputusan. Tentu saja keputusan kita mempengaruhi pemikiran dan sikap banyak orang, tapi saya tidak membicarakan keputusan yang terbuka mengenai tindakan dan arah yang mungkin akan kita bagi dalam pertemuan staff. Dibandingkan, saya membicarakan mengenai keputusan yang tidak nampak yang memiliki dampak langsung pada empat cara lainnya dimana kami membagi pengaruh kami.

Jika saya pernah meminta Anda untuk memberikan daftar setelah membaca artikel ini, mungkin Anda akan melakukannya dengan empat cara pertama. Karena semuanya penting, ini adalah cara kelima – mempengaruhi melalui keputusan kami – yang mungkin dilupalam tapi tidak bisa disangkal sebagai yang paling penting karena keputusan dan pilihan kami langsung mempengaruhi empat pengaruh lainnya.

Sebagai pemimpin kami mempengaruhi, apakah kami suka atau tidak.

Pemimpin terbaik membuat keputusan untuk mempengaruhi secara positif dan membangun dan menyadari bahwa keputusan tersebut langkah pertama yang penting untuk mewujudkannya.

Satu jalan untuk secara sadar meningkatkan kemampuan Anda dalam mempengaruhi orang lain adalah dengan terus menerus meningkatkan ketrampilan kepemimpinan Anda.

Sumber: www.bestmanagementarticles.com

Oleh: Kevin adalah seorang penulis, trainer, konsultan dan Chief Potential Officer Kevin Eikenberry Group (http://www.KevinEikenberry.com), perusahaan konsultan pembelajaran yang membantu organisasi, tim dan individu meningkatkan potensi kepemimpinan mereka.

Diterjemahkan oleh: Iin – Tim Pengusahamuslim.com
Artikel: www.pengusahamuslim.com